Sunday, November 29, 2009

4:50 AM.

Dekapannya tiba-tiba. Sempat dua detik aku terpinjat.
Kedua lengan itu berukir dari depan badanku ke belakang pinggang, lama-lama erat, pada aku yang tengah tenang bersandar di bantal satu untuk berdua.

Mungkin mabuk. Empat jam yang lalu dua botol vodka dan sepuluh botol bir untuk berlima, coba. "Gimana ngga mabok lo lo pada, ya kan..?!"

Kulitnya panas. Alkohol pancing marah menyala hatinya. Rebus matang alam khayalnya. Ombang ambing emosinya.
Alkohol atau aku? Alkohol atau kamu?
Kusalipkan tanganku ke belakang punggung dan bersandar kepalanya di pundakku.
Malam ini bisu namun bergemuruh dada sang Dewa, berbisik sampai ke kuping.
Bisu berlalu sekian detik, lalu menjadi menit, hingga tak kuasa tangisnya tumpah berderaian.
Aku diam. Aku ingin mengerti isi kepalanya. Namun emas bukan yang kurasa dalam diamku.
Jemariku usap mata nya. Lelakiku terisak perlahan-lahan, berlinang air matanya, basah bajuku.
Aku tidak tanyakan mengapa. Pikir apa dia...

Kulitnya makin panas. Gelap ruangan ini tidak cukup membutakanku, aku tetap melihat wajahnya memerah, rautnya keras.
Rangkulanku kueratkan layaknya sabuk pengaman. Aku ingin amankan dia malam ini. Agar dia menyejuk lalu tak lagi terjaga dalam sesalnya.

Ucap satu saja kata diantara beribu macamnya yang terapung di benakmu saat ini. Tuntun aku untuk mengerti isak tangismu. Tiap tetes air mata itu maknanya seratus ribu untukku. Maka marilah kaya berdua. Jangan sendiri-sendiri saja. Pelit namanya.

"Jangan tinggalkan aku ya. Aku tidak punya apa-apa lagi, nyet.", seraya tanganmu mengerat, seperti bertambah tiga kali lipat tenaganya. Lega aku, untung bukan suatu pengakuan. Tapi belum lega betul, aku belum menjawabmu. Ingin sekali aku bilang 'iya', sudah gatal tenggorokan menahan kata itu keluar, berharap itu sanggup menyejukan. Tapi tidak keluar.
Kalimatnya berhenti selama sepuluh detik, lalu bersambung kesana kemari, lalu aku.

"... Membahagiakanmu juga aku tak mampu. Aku cuma orang bodoh. Aku mohon jangan tinggalkan aku, aku sendiri di dunia ini sekarang aku cuma punya kamu, dan orang tuaku."
Sayang, jangan bicara tentang bodoh. Tidak ada yang benar-benar pintar di dunia ini. Lagipula membahagiakan dan bahagia itu dua kata saling berhubungan, satu darinya tidak bisa diucap kalau yang satunya lagi belum ada.
Apakah kamu bahagia?
Bertuturanlah kamu tentang masa lalumu lalu aku, tidak berhenti kamu mengucap heran. Sayangmu begitu besar katamu, yang sepertinya tidak pernah sebesar ini. Kalimat-kalimatmu bersautan, naik turun nada suaramu. Hampir percaya aku dibuatnya.

Mendadak aku mahal. Aku merasa mahal. Kulitku makanannya sehari-hari. Nafasnya berramai-ramai rebut hembusan nafasku. Lidahku menjadi lagu pengantar tidurnya. Tangan dan jemariku sisakan nikmat di benaknya. Aku punya arti untuk dirinya. Tidak akan ada yang punya aku seperti dia.

Langit sudah biru muda. Subuh pun sudah lewat.
Air matanya sudah hampir kering, sudah bisa mengukir senyum kecil setelah kupancing-pancing dengan beberapa kecup di hidungnya yang tengah mengendus-endus harum lipatan kulitku seraya mengangkat kepalanya, menyamankan sandaran di dadaku. Sebelah wajahnya berbekas kain bajuku, bulu-bulu halus di pangkal pipinya menutupi sebagian merah.
Malu menjalar ke alam sadarmu detik itu juga. Cepat-cepat tanganmu keringkan pipimu yang lembab, matamu yang sembab.
"Udah ah. Malu aku kan."

Aku tersenyum menang, "Mau kemana lagi aku hey, kemanapun aku pergi toh aku akan selalu pulang kesini..", telapak tanganku di dadamu, pertanda disitulah aku hidup dan istirahat.
Sekarang kita lega. Paling tidak untuk pagi ini.

x

Perempuan punya cerita.

Terhimpun dalam beberapa kalimat, dirangkai di satu ruang.
Awalnya hampa. Siapa yang mau dikurung di satu ruangan sesak udara beracun, tidak ada pilihan dan hanya bisa pasrah, mati kotor pelan-pelan.
Dicintai dan mencintai itu biasa. Lama-lama.
Tidak udah pake menaikan kedua alismu ketika dia berkata sayangnya tidak untukmu lagi.
Agar kamu tidak terluka lebih dalam, atau agar kamu mendapatkan yang terbaik, itu hanya omong kosong belaka.
Tidak usah pake menangis banyak-banyak, ketika dunia tidak menerima apa adanya pribadi yang berbeda di tiap sosoknya.
Biasa saja.

Salah. Biasakan. Bukan biasa saja.

Perempuan punya beribu cerita. Bukan surga yang berada di telapak kaki Ibu. Bukan menggandeng anak umur dua tahun setelah lulus SMA. Bukan merelakan tubuh molek nan ranum dijamah para lelaki berumur, seumuran Ayah kandung. Bukan kenyataan mengenai mereka yang mulai menyukai rasa sepet-sepet manis kaum sesama. Bukan kisah mengenai dia yang meminta izin kami untuk mengugurkan benih cinta yang terbentuk dengan tidak sengaja. Baca di koran atau di internet saja itu mah, sudah banyak. Dan lain-lain.

Ini didalamnya dalam kami.
Kami bisa liar dalam pemikiran, kadang patah pula logika dimakan rakus ego yang muda-muda. Kami tiada beda dengan laki-laki. Kami bisa sama kritisnya. Kadang bodoh, tapi pintar juga tidak jarang.
Tidak pula adil untuk memandang rendah para banci. Paling tidak mereka punya pandangan khusus tentang bersosok dan menjadi wanita. Susah-susah gampang. Atau bisa gampang saja, atau susah saja.

Untuk kuat, untuk tetap berjaga dan bernafas.
Untuk tegakkan punuk leher dan melihat lurus kedepan.
Kami punya mata bak tombak yang seraya menjunjung tinggi nilai-nilai yang kami bawa.
Kami masing-masing punya dinding beton di selangkangan kaki-kaki mulus kami, yang berbeda-beda tebalnya. Yang tebal sekali, susah digoyah, atau yang tipis setipis kain. Mudah dirobek.

Hingga satu saat kami bisa bernafas lega kembali, diruangan yang udaranya sesuci bayi yang baru keluar dari selaputnya. Tidak ada secerca pun racun dan kotoran, dihirup dalam-dalam dan kami hidup seribu tahun lagi.

Namun perempuan punya cerita. Dan tidak satu pun laki-laki di dunia ini yang mengerti itu sepenuhnya.

"Yaa, kecuali kalau kamu banci. Sok atuh di cek. Ngan sesana mah Wonderwoman ceuk orang bule ceunah. Nu kokoh pisan pokokna."
;p



Friday, November 06, 2009

Seduced


My latest drawing. Talk about killing time.

Tuesday, November 03, 2009

Sum-mer loving.

I'm very excited about summer. It's approaching, and some nights have gone warm so it's a good sign I guess. Irregardless, climate change sure does bring illness almost every time. I am currently not so healthy, thanks to the fucking weather.

Anyways, my life's been up and down as always. A lot has been happening since the last update I posted which was after my last visit to Jakarta (June-July, 2009). Can't be bothered to spare the details anymore hhaha

Uni life is actually great, with less deadline attacks it would've been greater, a lot greater. Ck..

Love, however, has been very tough on me lately. It started off splendid, but as relationship goes along with the time passing by, problems started to occur. Maybe it's normal, every relationship goes through some rough paths, but it's just getting too much to handle.


I've been enjoying buying cupcakes and eat out in the sun that comes along with the summer breeze. I love Melbourne's flares. Especially when I have to squint my eyes when it hits my face. We're summer flings.
Here I introduce you to a very abstractly funny book I read towards summer, it's called Up The Tree In The Park At Night With A Hedgehog. It's brutal but funny with a hint of guilty pleasure. I finished it already, and I can pass it to you if you want to have a read (you know how to reach me, drop a msg =} )

Saturday, July 11, 2009

Tastes like a crummy red wine

5:06 AM.
An empty hope. A broken shield.
A girl with a handful of dope, in the middle of the field.
I chase it long enough to finally stop and stare far down, grab a thought of reality.
Those are all lies. It' a lie.

I cross the river, you cross my mind.
I thought it would go away, but it always seem to rewind.
The wall of guts you built for years,
and a ball of numbness that you created in just a couple of blinks.
Can't you see I'm tired shedding tears?
Will you stop and come real, if in the next two hours I'll be burning love burning inks,
save you dusts of euphoric whispers, to keep you satisfy.

The path my hands follow on surfaces of you morning pale skin,
the way I lend my tongue on yours,
to keep your mind around me.
To inject my shadows for hours,
and engage threads of spells in places where it should be.

Another heart to heart isn't enough.
Another glass of red wine I thought would compensate.
Tastes pure bitter, with a hint of sour flushes. Tastes different.
You taste different.

In to you, above you, under you, beneath you, on top of you.
Love is in a different level of perfection, of purity.
Love is in a sealed envelope just in case.
Love is deeper than the ocean.
Love should be warm, not cold.
Love is when the red wine turns super sweet.
Love is..

what?

Thursday, July 09, 2009

My First Exhibition@ Teras Coffee and Photography.



One night my friend Bondan ym-ed me. I was back home, it was last month. He told me he had accomplished one big step to pursue his dream to become a musician. Check out his myspace page. He makes pretty easy musics and very relaxing to listen to. Not bad, B! And the talk led him to telling me about his next gig which was going to be at Teras Coffee, this new caffee that our friend Ditya and Nazmi owned. And then he was telling me about this small photography exhibition that's coming in pair with his gig, and asked me to join it. Well I was just giving it a shot, submitting two three photos, and two days after Ditya emailed me saying that my photographs were selected to be displayed in the exhibition. So here are some of the pictures i took from the exhibition. And I get to use the studio for 2 hours for free! thanks Dityaa, I'd use the opportunity next time I'm in Jkt [we made a deal to do a proper shoot anyway. He's such a good buddie :)]. The exhibition started June 20th for about a month, so it will approximately end around July 20th or something I can't remember. And the interview for JakTV went okay. Hihihi..

Check Teras Coffee,out, it's a great place to chill. The food and drinks are are unbelievably delicious. My favs: Nasi Goreng Kambing and Hot Peach Tea.

IVM [May 2009]













Here are some pictures of this music event called Indonesian Versus Malaysian. A bands battle that surprisingly turned out to be awesome. I have a major crush on Wandering Spirit and Supermetronome.

x