Dekapannya tiba-tiba. Sempat dua detik aku terpinjat.
Kedua lengan itu berukir dari depan badanku ke belakang pinggang, lama-lama erat, pada aku yang tengah tenang bersandar di bantal satu untuk berdua.

Mungkin mabuk. Empat jam yang lalu dua botol vodka dan sepuluh botol bir untuk berlima, coba. "Gimana ngga mabok lo lo pada, ya kan..?!"
Kulitnya panas. Alkohol pancing marah menyala hatinya. Rebus matang alam khayalnya. Ombang ambing emosinya.
Alkohol atau aku? Alkohol atau kamu?
Kusalipkan tanganku ke belakang punggung dan bersandar kepalanya di pundakku.
Malam ini bisu namun bergemuruh dada sang Dewa, berbisik sampai ke kuping.
Bisu berlalu sekian detik, lalu menjadi menit, hingga tak kuasa tangisnya tumpah berderaian.
Aku diam. Aku ingin mengerti isi kepalanya. Namun emas bukan yang kurasa dalam diamku.
Jemariku usap mata nya. Lelakiku terisak perlahan-lahan, berlinang air matanya, basah bajuku.
Aku tidak tanyakan mengapa. Pikir apa dia...
Kulitnya makin panas. Gelap ruangan ini tidak cukup membutakanku, aku tetap melihat wajahnya memerah, rautnya keras.
Rangkulanku kueratkan layaknya sabuk pengaman. Aku ingin amankan dia malam ini. Agar dia menyejuk lalu tak lagi terjaga dalam sesalnya.
Ucap satu saja kata diantara beribu macamnya yang terapung di benakmu saat ini. Tuntun aku untuk mengerti isak tangismu. Tiap tetes air mata itu maknanya seratus ribu untukku. Maka marilah kaya berdua. Jangan sendiri-sendiri saja. Pelit namanya.
"Jangan tinggalkan aku ya. Aku tidak punya apa-apa lagi, nyet.", seraya tanganmu mengerat, seperti bertambah tiga kali lipat tenaganya. Lega aku, untung bukan suatu pengakuan. Tapi belum lega betul, aku belum menjawabmu. Ingin sekali aku bilang 'iya', sudah gatal tenggorokan menahan kata itu keluar, berharap itu sanggup menyejukan. Tapi tidak keluar.
Kalimatnya berhenti selama sepuluh detik, lalu bersambung kesana kemari, lalu aku.
"... Membahagiakanmu juga aku tak mampu. Aku cuma orang bodoh. Aku mohon jangan tinggalkan aku, aku sendiri di dunia ini sekarang aku cuma punya kamu, dan orang tuaku."
Sayang, jangan bicara tentang bodoh. Tidak ada yang benar-benar pintar di dunia ini. Lagipula membahagiakan dan bahagia itu dua kata saling berhubungan, satu darinya tidak bisa diucap kalau yang satunya lagi belum ada.
Apakah kamu bahagia?
Bertuturanlah kamu tentang masa lalumu lalu aku, tidak berhenti kamu mengucap heran. Sayangmu begitu besar katamu, yang sepertinya tidak pernah sebesar ini. Kalimat-kalimatmu bersautan, naik turun nada suaramu. Hampir percaya aku dibuatnya.
Mendadak aku mahal. Aku merasa mahal. Kulitku makanannya sehari-hari. Nafasnya berramai-ramai rebut hembusan nafasku. Lidahku menjadi lagu pengantar tidurnya. Tangan dan jemariku sisakan nikmat di benaknya. Aku punya arti untuk dirinya. Tidak akan ada yang punya aku seperti dia.
Langit sudah biru muda. Subuh pun sudah lewat.
Air matanya sudah hampir kering, sudah bisa mengukir senyum kecil setelah kupancing-pancing dengan beberapa kecup di hidungnya yang tengah mengendus-endus harum lipatan kulitku seraya mengangkat kepalanya, menyamankan sandaran di dadaku. Sebelah wajahnya berbekas kain bajuku, bulu-bulu halus di pangkal pipinya menutupi sebagian merah.
Malu menjalar ke alam sadarmu detik itu juga. Cepat-cepat tanganmu keringkan pipimu yang lembab, matamu yang sembab.
"Udah ah. Malu aku kan."
Aku tersenyum menang, "Mau kemana lagi aku hey, kemanapun aku pergi toh aku akan selalu pulang kesini..", telapak tanganku di dadamu, pertanda disitulah aku hidup dan istirahat.
Sekarang kita lega. Paling tidak untuk pagi ini.

x






















